
Agung Tato
Agung Suryanto
Indonesia
Agung Tato adalah perupa Indonesia yang menempatkan eksplorasi ruang, bentuk, dan dekonstruksi makna sebagai fondasi utama praktik artistiknya. Berbekal latar belakang arsitektur, ia mengembangkan pendekatan yang memadukan pemahaman tentang struktur, konstruksi, dan ruang dengan bahasa seni rupa kontemporer. Baginya, karya seni bukan sekadar objek visual, melainkan medium untuk meninjau kembali berbagai asumsi yang telah mapan mengenai ruang, bentuk, serta representasi. Melalui pendekatan dekonstruktif, ia menghasilkan karya dua maupun tiga dimensi yang mendorong publik mempertanyakan batas-batas antara seni lukis, seni patung, dan berbagai kategori artistik lainnya. Dalam perkembangannya, eksplorasi tersebut meluas ke ranah sosial dan budaya melalui pembacaan ulang simbol-simbol tradisional, seperti Lingga-Yoni, yang dibongkar, ditafsirkan, dan disusun kembali menjadi bentuk-bentuk visual baru yang relevan dengan konteks masa kini. Belakangan, Agung Tato mengembangkan dialog antara konsep dekonstruksi dan Kosmologi Nuswantara untuk merefleksikan identitas, memori kolektif, serta hubungan antara dimensi fisik dan metafisik. Konsistensinya dalam berkarya membawanya meraih sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Gold Award Established Artist pada UOB Painting of the Year (2013), Mandiri Art Award Favorite Winner (2015), serta penghargaan Biennale Jawa Timur III (2009) dan IV (2011). Selain aktif berpameran di Indonesia dan Asia Tenggara, ia telah menggelar berbagai pameran tunggal, antara lain Metamorfosa (2002), The Watchers (2006), Biru dalam Seni Patung (2008), Sudut Pandang Aerial pada Struktur Kota (2014), Selo (2021), Batu Hidup Bergema (2022), serta berpartisipasi dalam pameran Pasetaky dan YAA 10 (2025), serta Jam Kosoong dan Mangsa Kalasubo (2026).
Karya
Data Karya Belum Tersedia
Karya dari seniman ini sedang dalam proses pengumpulan